YANG SEBENARNYA
Oleh Murni Oktarina
Sungguh aku tak mau sebenarnya
Tapi apalah daya inilah kenyataannya
Sebenarnya aku ingin berhenti saja
Tapi ku sudah benar-benar tak bisa
Aku sungguh tahu sebenarnya
Apa yang selama ini ku lakukan percuma
Aku tahu semua ini hanya sia-sia
Tapi aku benar-benar tetap tak bisa
Aku tahu, tak pantas sebenarnya
Menggenggamnya begitu erat
Karena ku sudah tahu sebenarnya
Tak kan ada yang dapat memberiku obat
Seiring waktu berjalan melangkah
Mencoba bangun dan terjaga
Aku sadar jika hal yang sebenarnya
Telah melumpuhkan dan benar-benar terpisah
Akhirilah ini dengan senyuman
Kenyataan memang tak selamanya sesuai harapan
Tataplah ke depan dan mari laksanakan
Impian-impian baru untuk masa depan
TANDA TANYA KEADILAN ?
Oleh Vii Pagurawan
Aku bukan makhluk yang mempesona yang bisa berjalan di tengah
kerikil tajam,yang bisa hidup di dalam ke getiran,dan bertahan di tengah
badai yang menyerang,tujuan dalam semesta tak tergiur oleh ambisi.
Siapakah
aku?apa aku hanya cibiran dari penguasa dan hanya sekedar dapat
rangkulan dari orang yang tidak mengerti,atau hanya sebuah aplause dari
orang-orang bodoh,mungkin teka-teki dalam mimpi hanya menjadi sebuah asa
karangan para pujangga yang di tulis lewat sejuta kesan,hanya rela
terbesit karna keterpaksaan.Jika malang yang tengah berjalan mungkin
lena terbangun jua di dalam sepi ,rintihan angin bukan sebuah
keterpantasan yang di nyanyi kan oleh setiap burung yang hanya paham
dengan kesenangan sendiri.
Aku bukan mereka yang tersenyum dengan
lantun cacian sang mentari yang duduk di atas kepala dari para sang
seniman awam,jika rayuan terus menyiksa siksa lah aku dengan cambukkan
ketakutan dari setiap bait kemurkaan bara api birahi pecundang.
Aku
tak berharap dosa kenikmatan dari penguasa jelata,tapi senyuman jelata
yang setiap titik darah pengorbanan yang kan membawa ku terus sampai
ujung kebahagian jelata yang sempurna.