Selasa, 26 Juni 2012

PUISI PERJUANGAN

YANG SEBENARNYA
Oleh Murni Oktarina

Sungguh aku tak mau sebenarnya
Tapi apalah daya inilah kenyataannya
Sebenarnya aku ingin berhenti saja
Tapi ku sudah benar-benar tak bisa

Aku sungguh tahu sebenarnya
Apa yang selama ini ku lakukan percuma
Aku tahu semua ini hanya sia-sia
Tapi aku benar-benar tetap tak bisa

Aku tahu, tak pantas sebenarnya
Menggenggamnya begitu erat
Karena ku sudah tahu sebenarnya
Tak kan ada yang dapat memberiku obat

Seiring waktu berjalan melangkah
Mencoba bangun dan terjaga
Aku sadar jika hal yang sebenarnya
Telah melumpuhkan dan benar-benar terpisah

Akhirilah ini dengan senyuman
Kenyataan memang tak selamanya sesuai harapan
Tataplah ke depan dan mari laksanakan
Impian-impian baru untuk masa depan

TANDA TANYA KEADILAN ?
Oleh Vii Pagurawan

Aku bukan makhluk yang mempesona yang bisa berjalan di tengah kerikil tajam,yang bisa hidup di dalam ke getiran,dan bertahan di tengah badai yang menyerang,tujuan dalam semesta tak tergiur oleh ambisi.
Siapakah aku?apa aku hanya cibiran dari penguasa dan hanya sekedar dapat rangkulan dari orang yang tidak mengerti,atau hanya sebuah aplause dari orang-orang bodoh,mungkin teka-teki dalam mimpi hanya menjadi sebuah asa karangan para pujangga yang di tulis lewat sejuta kesan,hanya rela terbesit karna keterpaksaan.Jika malang yang tengah berjalan mungkin lena terbangun jua di dalam sepi ,rintihan angin bukan sebuah keterpantasan yang di nyanyi kan oleh setiap burung yang hanya paham dengan kesenangan sendiri.
Aku bukan mereka yang tersenyum dengan lantun cacian sang mentari yang duduk di atas kepala dari para sang seniman awam,jika rayuan terus menyiksa siksa lah aku dengan cambukkan ketakutan dari setiap bait kemurkaan bara api birahi pecundang.
Aku tak berharap dosa kenikmatan dari penguasa jelata,tapi senyuman jelata yang setiap titik darah pengorbanan yang kan membawa ku terus sampai ujung kebahagian jelata yang sempurna.